Monday, 24 October 2011

Do'a seorang Ayah


Thera are no perfect fathers but father always love perfectly 

sesungguhnya pada setiap sujud malamnya, ayah selalu mendoakan kita

Tapi ayah berbeda dengan ibu, ayah tak mau kita tau bahwa beliau sangat menyayangi kita
Itu semata-mata karena ayah tak ingin kita menjadi lemah dan manja



Ya Tuhan, berikanlah hamba seorang   putra yang  cukup kuat untuk mengakui kelemahannya, tabah dan bangga dalam kekalahan, jujur dan rendah hati dalam kemenangan
Berikanlah hamba seiorang putra yang  mampu  mewujudkan cita-cita dan tidak hanya tenggelam dalam angan-angannya saja
Seorang putra yang sadar bahwa mengenal engkau dan mengenal diri sendiri adalah landasan segala ilmu pengetahuan
Y a Tuhan, janganlah pimpin putraku di jalan yang mudah dan lunak, namun tuntunlah dia di jalan ya penuh hambatandan godaan, kesulitan dan tantangan
Bimbinglah dia untuk tetap tegak dalam prahara dan rasa kasih kepada mereka  yang tidak berdaya, ajarilah dia untuk berhati tulus dan bercita-cita tinggi, mampu memimpin diri sendiri sebelum mempunyai kesempatan untuk memimpin orang lain
Berikanlah hamba seorang putra yang mengetahui  makna tawa ceria tanpa melupakan makna tangis duka
Seorang putra yang mampu memandang jauh ke masan depan, namun tidak melupakan masa yang telah silam
Dan, bila semua ini telah menjadimiliknya, anugerahilah dia secercahk kejenakan supaya dia dapat sungguh-sungguhdan dapat pula menikmati hidupnya
Anuberahilah dia kerendahan hati agar selalu ingat bahwa keagungan yang sejati.. senantiasa sederhana. Kearifan yang sesungguhnya .. senantiasa tulus. Dan kekuatan yang benar .. senantiasa lembut
Dan akhirnya bila semua ini telah terwujud, hamba ayahnya akan memberanikan diri berbisik,” …..HIDUPKU TIDAK SIA-SIA…”
berikut kisah yang membuktikan betapa besar kasihsayang seorang ayah kepada anaknya

http://www.youtube.com/watch?v=2uXs6fi9nbI&feature=player_embedded

Tuesday, 18 October 2011

we are family...



Ketika aku membuka mata, aku sadar, disinilah sekarang aku berada. Disekitar mereka, teman-teman petakku yang kuanggap seperti keluargaku. Disinilah kehidupanku sekarang. Melalui hari-hari bersama, tertawa dan menangis bersama. Bangun di pagi hari, berakivitas bersama dan kembali dalam lelap kami di malam hari. Aku bersyukur menemukan mereka,mereka yang mengajariku makna banyak hal. Tentang menghargai, tentang persahabatan, kasih sayang, memaafkan dan bagaimana makna hidup bersama.
Kami berbeda,  Latar belakang, status, kebudayaan, suku, ras, agama dan banyak hal. Yah, kami sadar akan semua itu.  Tapi itu bukan menjadi penghalang bagi kami. Kami malah bangga dengan semua itu. Bagi kami  itu adalah tugas kami untuk saling mengerti dan mempelajari karakter masing-masing. Kadang kami lupa, kadang ego kami muncul, kadang kami saling menyakiti, tapi itu bukan akhir dari hubungan erat kami. Itu sebuah proses, karena disini tempat kami berproses.  Proses itu menjadikan kami matang, untuk saling memahami dan saling mengerti satu sama lain.
Betapa lengkapnya hidup kami disini, meski jauh dari keluarga, meski jauh dari sanak saudara tapi kami di pertemukan dan kami bangun keluarga disini. Ini sebuah bukti, Bukan hanya darah yang membuat seseorang mengakui sebuah keluarga, bukan hanya suku yang menjadikan kerabat, tapi suatu kebersamaan. Kebersamaan  dalam suka dan duka. Kebersamaan dalam menghadapi masalah. Kebersamaan langkah menginjakkan kaki disini. Dan itu menjadikan kami erat, kami kuat, kami saling menyayangi, kami saling melengkapi.
Kami sadar setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kami juga sadar bahwa perpisahan tak semanis pertemuan. Suatu saat, waktu akan memisahkan  kami. Jarak akan menjadi penghalang langkah kami. Senda gurau yang kami lakukan ini akan sangat  kami rindukan. Tapi jangan khawatir kawan, persahabatan kita akan selamanya abadi…

                                          ...Created by enggar…

Monday, 17 October 2011

baD habiT

Telat menza….
Kurubuhkan tubuhku ke ranjang asrama dimana aku tinggal. Ku lempar tas kuliah ke samping ranjang  dimana ku biasanya meletakkannya. Ku hembuskan nafas lega setelah mengikut perkuliahan yang lumayan menjenuhkan otakku. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, “masih satujam lagi..”, bisikku sendiri. Aku pun memejamkan mataku perlahan menyambut undangan alam bawah sadarku. Suara-suara disekitarku membuyar semakin lama semakin tak ku dengar lagi. Aku pun tenggelam dalam tidurku.
“makan siang-makan siang….” Teriak tmen2 petak membangunkanku. Aku pun tersentak dan terbangun. Waktu menjukkan pukul 12.30 WIB. Akupun bergegas dan bersiap2 berangkat menza. Barak sudah sepi, tinggal anak2 petakku dan beberapa orang di petak lain. Tak lupa ku sholat dzuhur dulu dan mencuci sendok. Ku langkahkan kakiku keluar petak, memang dari dulu petak kami  biasa paling akhir berangkat ke  menza. Dan itu sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. lima orang teman petakku di depan mempercepat langkah mereka. Aku dan 4 orang teman petakku yang lain masih sibuk dengan jilbab kami, karena memang design jilbab ipdn sangat berbeda dan rumit. Sambil mengawasi kanan kiri malihat orang –orang berlarian akhirnya kami  menyelesaikan jilbab kami. Dengan segera kami pun langsung menyusul teman2 kami di depan. Setapak demi setapak kami turuni tangga putus asa berharap tangga ini suatu saat berubah menjadi ekskalator supaya kami ga susah payah melalui anak tangganya yang kadang membuat kami putus asa. Mungkin karena itulah tangga ini disebut tangga putus asa. Dengan nafas terengah-engah ku lihat teman2 berlarian menghampiri pintu menza yang seakan melambai-lambaikan daun pintunya ke arah kami. “tunggu..tunggu…”, teriak kami keras-keras berharap para penjaga pintu (yang notabenenya teman2 kami sendiri tapi dengan jabatan mereka yaitu kader polpra) mendengar.
Ku percepat langkahku menuruni anak tangga yang serasa  menertawakan kami. Angin pun ga mau kalah  mengejek kami, bertiup seolah ingin menghentikan kami. Tapi kami tak peduli. Ku condongkan tubuhku ke depan dan ku percepat lariku. Sempat terlintas di benakku kalau sampai aku  jatuh di tangga ini pasti minimal kakiku terkilir. Tapi sudahlah, kami tak peduli dengan semua itu.
Akhirnya kami sampai di bawah tangga, tapi belum selesai perjuangan kami. Masih sekitar 200 meter lagi  langkah kami menuju pintu menza. Tapi tiba-tiba ku liat teman2ku di depan terhenti. Ternyata pintu menza telah tertutup. Ku dengar teman2ku di depan berteriak dan memaki dengan muka dongkol mereka. Maklumlah, mereka tinggal beberapa langkah lagi masuk pintu keramat itu. Namun apa daya, pintu telah tertutup. Daun pintu yang tadi melambai-lambai sekarang berdiam tegar dengan angkuhnya.
Ku hela nafasku dalam-dalam, berusaha mengisi rongga dadaku dengan udara  sebanyak-banyaknya. Begitupun teman2ku yang lain disampingku, mereka terhenti dan berebut udara disekitar mereka. Kulihat muka mereka memerah, lambang marah dan kecewa dalam hati. Akupun terdiam berusaha memahami keadaan dengan arif. Tapi bukan berarti aku munafik, jujur akupun maaaaraaaah. Kulangkahkan kakiku perlahan menghampiri teman2 lain di depan. Kami berkumpul di depan pintu menunggu nasib apa yang akan terjadi pada kami. Karena sebagaimana pelanggaran yang lain, telat menza juga pasti ada konsekuensinya
Begitulah ceritanya, dan akhirnya pengasuh perwira jaga pun datang. Kami rebut salling mengutarakan pendapat kami. Tapi apa daya, peratura tetap peraturan dan akhirnya kami dapan konsekuensi kurve lapangan basket. Syukurlah, setidaknya kami tidak di TBO kan…
Sunnguh tanggal 14 oktober 2011 yang penuh pelajaran…

Sunday, 16 October 2011

satu jam saja...


Malamku….
Ku tarik nafasku dalam-dalam, lalu kulepaskan  hingga menggetarkan selimut yang menutup mukaku. Ku meringkuk dingin dalam kesunyian malam. Gelap menyeruak disetiap sudut dan keheningan datang menghantuiku. Sinar bulan pun enggan menemaniku, seakan telah muak dengan semua kisah malamku. Mendung gelap menggantikannya, mencoba merayuku  dengan kilat indahnya.
Ku pejamkan mataku enggan menerima rayuan itu, tapi gundahku seakan memaksaku terjaga. Sesekali ku arahkan mataku  ke jam dinding yang berdetak teratur seirama dengan detak jantungku.
Pukul 01.00 WIB, menandakan lewat tengah malam. Ku coba memejamkan mataku sekali lagi, tapi bayangannya datang membuyarkan usaha tidurku. Gerimispun datang seolah ingin menghiburku. Namun bayangan itu belum lenyap. Ku akui Ku merindukannya, rindu akan nafasnya, rindu akan tawa, rindu akan suaranya. Tapi jarak memisahkan kami, seakan tak merestui hubungan ini. Ku hembuskan nafasku mencoba mencuri lega di dada. Terkadang aku lelah, lelah akan sepi tanpa dirimu.
Ku benamkan tubuhku dalam-dalam, berharap sang selimut  mau berbagi hangat miliknya. Kilat-kilat masih sibuk bermain di luar sana. Terdengar tetesan air beradu ke tanah memecahkan keheningan. Andai malam ini berhasil ku lawan dan berhasil ku pejamkan mataku, hanya satu pinta dalam doA tidurku. Satu jam saja denganmu meski dalam mimpi...

Sunday, 2 October 2011

Love me foreVer...


Tak pernah ku menyesal, ku telah memilih dirimu. Dengan perbedaan yang ada, Namun kita masih bersama.Kadang aku yang selalu egois, Dan kamu yang slalu tak perduli. Dengan sikapku yang tak mau tahu, tapi kamu yang selalu mengalah.
Cinta ini indah, Saat kita bersama..Tak perduli saat senang dan saat susah. Kita kan selalu mencinta. Oh cinta ini indah, Saat kita bersama. Dan bila bosan benci menghampiri Cinta kan membawa kita kembali. Di satu lollipop love, lollipop love. It’s like a lollipop love, lollipop love
Satu dua kali kita pernah saling membenci. Ketiga empat kali kita juga saling tak bicara. Namun tak sanggup ku berlama-lama, Dengan hari-hari tanpa dirimu,. Aku butuh teman untuk bicara, Dan kamu selalu ada tuk mendengar.
Oh cinta ini indah, Saat kita bersama. Tak perduli saat senang dan saat susah.Kita kan selalu mencinta….