Tersentak aku
tiba-tiba. Teriakan di petak sebelah lagi-lagi membangunkanku dari tidur malam
yang belum selesai. “sial” gerutuku sendiri. Akhir-akhir ini memang gampang
sekali aku terbangun. Dan celakanya susah bagiku untuk kembali tidur seperti
sebelumya. Insomnia lagi ni, terus aku
ngapain dong, kebingunganku dalam hati mengingat novel yang ku baca telah
ku selesaikan sebelum tidur tadi dan mp3 player kesayanganku telah tertinggal
dirumah ketika IB kemarin.
Ku lirik hape
disebelah bantalku berharap mendapatkan ide untuk mengisi insomniaku malam ini.
“ada sms”, kataku lirih dengan mendongakkan kepalaku membaca sms di hape. Ada 3
sms, tapi 2 sms pertama tak membuatku tertarik. Satu sms terakhir dari nomor
yang tak bernama yang berarti tak ada di daftar phonebookku. Ternyata dari dia, yah,
aku masih hafal nomornya. Sejak hubungan kami berakhir telah ku hapus namanya
dari phonebookku. Meski begitu aku tau itu darinya karena angka-angka itu masih
melekat kuat di otakku.
“haii..”,
smsnya singkat tapi pasti ada perasaan dalam dibaliknya. Aku senyum menyeringai,
entah apa yang ada si pikiranku. Antara senang melihat sms darinya atau bingung
dengan perasaan yang kumiliki terhadapnya. Ku letakkan kembali hapeku disamping
bantalku. Tak akan ku balas sms itu. Tertera pukul 22.14 WIB ketika dia
mengirim pesan itu. Dua jam yang lalu, bisikku
dalam hati seiring ku lihat sekarang telah mendekati pukul 01.00 WIB. Lebih baik dia berpikir aku telah tertidur
daripada nanti makin panjang cerita kalau dia tau aku belum tidur jam segini.
“kenapa dia lagi”, keluhku ketika tersadar pikiranku telah tersita
memikirkannya saat itu. Tapi bayangnya tak kunjung hilang walaupun begitu keras
aku menggelengkan kepalaku. Teringat kata terakhir yang ku katakan kepadanya
atas pertanyaannya malam itu.
“ kau terlalu abu-abu buatku, tapi aku selalu
menganggapmu indah. Namun aku sadar sampai batas mana aku bisa menikmati
keindahanmu. Met beristirahat, jangan takut aku takakan pernah melupakanmu.
Terimakasih atas semuanya”. Kata-kataku terasa lirih, berbeda dengan jawaban-jawabanku
sebelumnya ketika kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan basa-basi tentang
keadaanku. Aku tau perasaanmu masih dalam, tapi ku harap kau dapat memahami
posisi kita sekarang. Aku masih pada keputusanku saat itu. Ketika kita bersepakat
untuk mengakhiri sesuatu yang pernah kita rangkai berdua. Bayanganmu menyeruak
dan mulai mengisi dinding-dinding otakku. Senyummu, nafasmu, suaramu, semua
kenangangan bersamamu, betapa berharga bagiku. Betapa aku ingin sekali membingkainya dalam suatu ikatan
yanglebih indah. Sesuatu yang bisa kita hargai suatu saat nanti. Tapi
kesempatan itu tak datang malah menjauh
dari kita. Tapi mungkin itulah jalan takdir. Disaat sesuatu yang kita inginkan
tidak terkabul, namun tetap ada sepucuk harapan bahwa suatu saat Tuhan akan
membingkis sesuatu yang lebih indah buat kita. Yah, kita mempercayai hal itu.
Pagi itu kau
memincingkan matamu. Malirikku dengan tatapan tajam yang bisa dibilang kau
mengacuhkanku. Bergetar hatiku. Aku tau konsekuensi ini setelah keputusan
semalam. Mungkin sesuatu yang aku paksakan untuk kita sepakati tentang hubungan
kita tak sepenuhnya kau terima. Kau mungkin berfikir bahwa ini telah ku
rencanakan sebelumnya. Bahwa perasaanku terhadapmu hanya sebuah sungai yang
dangkal yang tak lebih dari sebuah permain munafik belaka. Oh, seandainya kau
tau betapa sakitnya hatiku melihat pincingan matamu itu.
Tak terasa air
mata telah membasahi sebagian wajahku.
Membentuk sebuah resapan dibantalku. Aku menangis. Kenapa masalah ini selalu
membuatku mengeluarkan air mata. “sial”, teriakku seraya menyeka air mata yang
keluar terus menerus dari mataku. Beginikah sakitnya rasa mencintai. Antara
kesedihan dan kebahagiaan, antara menemukan dan kehilangan, dan antara
kebohongan dan kejujuran, semua bercampur aduk bagai putaran angin topan yang
bergemuruh. Menghancurkan dan merusak
semua sendi keangkuhan, rasa gengsi bahkan rasa malu. Semua terlupakan jika
kita jatuh cinta, yang ada hanya rasa rindu.”aaaaarrrggghhhh”, gerangku melawan
semua yang ada di pikiranku. Ku pejamkan mataku dalam-dalam, berusaha
menghentikan aliran air mataku. Tapi usahaku tak berhasil. Aku makin teridak
dalam dada. Ku rentangkan tubuhku, ku telukupkan kedua tanganku pada wajahku.
Merasa malu dengan diriku sendiri. Malam yang panjang. Sangat ku sesali kenapa
aku terjaga, lalu ku maki temanku di petak sebelah kenapa kebisikan mereka
membuatku tebangun.
Sudahlah,
tenangku dalam hati. Beranjak aku dari tempat tidurku. “lebih baik aku sholat
daripada tambah dosa seperti ini”. Akupun melangkah menuju kamar mandi untuk
berwudhu. Ya Allah, hanya kepadamu aku berserah diri dan mohon pertolongan..


