Monday, 28 May 2012

insomnia again

Tersentak aku tiba-tiba. Teriakan di petak sebelah lagi-lagi membangunkanku dari tidur malam yang belum selesai. “sial” gerutuku sendiri. Akhir-akhir ini memang gampang sekali aku terbangun. Dan celakanya susah bagiku untuk kembali tidur seperti sebelumya. Insomnia lagi ni, terus aku ngapain dong, kebingunganku dalam hati mengingat novel yang ku baca telah ku selesaikan sebelum tidur tadi dan mp3 player kesayanganku telah tertinggal dirumah ketika IB kemarin.
Ku lirik hape disebelah bantalku berharap mendapatkan ide untuk mengisi insomniaku malam ini. “ada sms”, kataku lirih dengan mendongakkan kepalaku membaca sms di hape. Ada 3 sms, tapi 2 sms pertama tak membuatku tertarik. Satu sms terakhir dari nomor yang tak bernama yang berarti tak ada di  daftar phonebookku. Ternyata dari dia, yah, aku masih hafal nomornya. Sejak hubungan kami berakhir telah ku hapus namanya dari phonebookku. Meski begitu aku tau itu darinya karena angka-angka itu masih melekat kuat di otakku.
“haii..”, smsnya singkat tapi pasti ada perasaan dalam dibaliknya. Aku senyum menyeringai, entah apa yang ada si pikiranku. Antara senang melihat sms darinya atau bingung dengan perasaan yang kumiliki terhadapnya. Ku letakkan kembali hapeku disamping bantalku. Tak akan ku balas sms itu. Tertera pukul 22.14 WIB ketika dia mengirim pesan itu. Dua jam yang lalu, bisikku dalam hati seiring ku lihat sekarang telah mendekati pukul 01.00 WIB.  Lebih baik dia berpikir aku telah tertidur daripada nanti makin panjang cerita kalau dia tau aku belum tidur jam segini. “kenapa dia lagi”, keluhku ketika tersadar pikiranku telah tersita memikirkannya saat itu. Tapi bayangnya tak kunjung hilang walaupun begitu keras aku menggelengkan kepalaku. Teringat kata terakhir yang ku katakan kepadanya atas pertanyaannya malam itu.
kau terlalu abu-abu buatku, tapi aku selalu menganggapmu indah. Namun aku sadar sampai batas mana aku bisa menikmati keindahanmu. Met beristirahat, jangan takut aku takakan pernah melupakanmu. Terimakasih atas semuanya”. Kata-kataku terasa lirih, berbeda dengan jawaban-jawabanku sebelumnya ketika kau mengajukan pertanyaan-pertanyaan basa-basi tentang keadaanku. Aku tau perasaanmu masih dalam, tapi ku harap kau dapat memahami posisi kita sekarang. Aku masih pada keputusanku saat itu. Ketika kita bersepakat untuk mengakhiri sesuatu yang pernah kita rangkai berdua. Bayanganmu menyeruak dan mulai mengisi dinding-dinding otakku. Senyummu, nafasmu, suaramu, semua kenangangan bersamamu, betapa berharga bagiku. Betapa aku  ingin sekali membingkainya dalam suatu ikatan yanglebih indah. Sesuatu yang bisa kita hargai suatu saat nanti. Tapi kesempatan itu tak datang malah  menjauh dari kita. Tapi mungkin itulah jalan takdir. Disaat sesuatu yang kita inginkan tidak terkabul, namun tetap ada sepucuk harapan bahwa suatu saat Tuhan akan membingkis sesuatu yang lebih indah buat kita. Yah, kita mempercayai hal itu.
Pagi itu kau memincingkan matamu. Malirikku dengan tatapan tajam yang bisa dibilang kau mengacuhkanku. Bergetar hatiku. Aku tau konsekuensi ini setelah keputusan semalam. Mungkin sesuatu yang aku paksakan untuk kita sepakati tentang hubungan kita tak sepenuhnya kau terima. Kau mungkin berfikir bahwa ini telah ku rencanakan sebelumnya. Bahwa perasaanku terhadapmu hanya sebuah sungai yang dangkal yang tak lebih dari sebuah permain munafik belaka. Oh, seandainya kau tau betapa sakitnya hatiku melihat pincingan matamu itu.
Tak terasa air mata telah  membasahi sebagian wajahku. Membentuk sebuah resapan dibantalku. Aku menangis. Kenapa masalah ini selalu membuatku mengeluarkan air mata. “sial”, teriakku seraya menyeka air mata yang keluar terus menerus dari mataku. Beginikah sakitnya rasa mencintai. Antara kesedihan dan kebahagiaan, antara menemukan dan kehilangan, dan antara kebohongan dan kejujuran, semua bercampur aduk bagai putaran angin topan yang bergemuruh. Menghancurkan dan  merusak semua sendi keangkuhan, rasa gengsi bahkan rasa malu. Semua terlupakan jika kita jatuh cinta, yang ada hanya rasa rindu.”aaaaarrrggghhhh”, gerangku melawan semua yang ada di pikiranku. Ku pejamkan mataku dalam-dalam, berusaha menghentikan aliran air mataku. Tapi usahaku tak berhasil. Aku makin teridak dalam dada. Ku rentangkan tubuhku, ku telukupkan kedua tanganku pada wajahku. Merasa malu dengan diriku sendiri. Malam yang panjang. Sangat ku sesali kenapa aku terjaga, lalu ku maki temanku di petak sebelah kenapa kebisikan mereka membuatku tebangun.
Sudahlah, tenangku dalam hati. Beranjak aku dari tempat tidurku. “lebih baik aku sholat daripada tambah dosa seperti ini”. Akupun melangkah menuju kamar mandi untuk berwudhu. Ya Allah, hanya kepadamu aku berserah diri dan mohon pertolongan..



No comments:

Post a Comment