Telat menza….
Kurubuhkan tubuhku ke ranjang asrama dimana aku tinggal. Ku lempar tas kuliah ke samping ranjang dimana ku biasanya meletakkannya. Ku hembuskan nafas lega setelah mengikut perkuliahan yang lumayan menjenuhkan otakku. Jam menunjukkan pukul 11.30 WIB, “masih satujam lagi..”, bisikku sendiri. Aku pun memejamkan mataku perlahan menyambut undangan alam bawah sadarku. Suara-suara disekitarku membuyar semakin lama semakin tak ku dengar lagi. Aku pun tenggelam dalam tidurku.
“makan siang-makan siang….” Teriak tmen2 petak membangunkanku. Aku pun tersentak dan terbangun. Waktu menjukkan pukul 12.30 WIB. Akupun bergegas dan bersiap2 berangkat menza. Barak sudah sepi, tinggal anak2 petakku dan beberapa orang di petak lain. Tak lupa ku sholat dzuhur dulu dan mencuci sendok. Ku langkahkan kakiku keluar petak, memang dari dulu petak kami biasa paling akhir berangkat ke menza. Dan itu sudah menjadi kebiasaan yang mendarah daging. lima orang teman petakku di depan mempercepat langkah mereka. Aku dan 4 orang teman petakku yang lain masih sibuk dengan jilbab kami, karena memang design jilbab ipdn sangat berbeda dan rumit. Sambil mengawasi kanan kiri malihat orang –orang berlarian akhirnya kami menyelesaikan jilbab kami. Dengan segera kami pun langsung menyusul teman2 kami di depan. Setapak demi setapak kami turuni tangga putus asa berharap tangga ini suatu saat berubah menjadi ekskalator supaya kami ga susah payah melalui anak tangganya yang kadang membuat kami putus asa. Mungkin karena itulah tangga ini disebut tangga putus asa. Dengan nafas terengah-engah ku lihat teman2 berlarian menghampiri pintu menza yang seakan melambai-lambaikan daun pintunya ke arah kami. “tunggu..tunggu…”, teriak kami keras-keras berharap para penjaga pintu (yang notabenenya teman2 kami sendiri tapi dengan jabatan mereka yaitu kader polpra) mendengar.
Ku percepat langkahku menuruni anak tangga yang serasa menertawakan kami. Angin pun ga mau kalah mengejek kami, bertiup seolah ingin menghentikan kami. Tapi kami tak peduli. Ku condongkan tubuhku ke depan dan ku percepat lariku. Sempat terlintas di benakku kalau sampai aku jatuh di tangga ini pasti minimal kakiku terkilir. Tapi sudahlah, kami tak peduli dengan semua itu.
Akhirnya kami sampai di bawah tangga, tapi belum selesai perjuangan kami. Masih sekitar 200 meter lagi langkah kami menuju pintu menza. Tapi tiba-tiba ku liat teman2ku di depan terhenti. Ternyata pintu menza telah tertutup. Ku dengar teman2ku di depan berteriak dan memaki dengan muka dongkol mereka. Maklumlah, mereka tinggal beberapa langkah lagi masuk pintu keramat itu. Namun apa daya, pintu telah tertutup. Daun pintu yang tadi melambai-lambai sekarang berdiam tegar dengan angkuhnya.
Ku hela nafasku dalam-dalam, berusaha mengisi rongga dadaku dengan udara sebanyak-banyaknya. Begitupun teman2ku yang lain disampingku, mereka terhenti dan berebut udara disekitar mereka. Kulihat muka mereka memerah, lambang marah dan kecewa dalam hati. Akupun terdiam berusaha memahami keadaan dengan arif. Tapi bukan berarti aku munafik, jujur akupun maaaaraaaah. Kulangkahkan kakiku perlahan menghampiri teman2 lain di depan. Kami berkumpul di depan pintu menunggu nasib apa yang akan terjadi pada kami. Karena sebagaimana pelanggaran yang lain, telat menza juga pasti ada konsekuensinya
Begitulah ceritanya, dan akhirnya pengasuh perwira jaga pun datang. Kami rebut salling mengutarakan pendapat kami. Tapi apa daya, peratura tetap peraturan dan akhirnya kami dapan konsekuensi kurve lapangan basket. Syukurlah, setidaknya kami tidak di TBO kan…
Sunnguh tanggal 14 oktober 2011 yang penuh pelajaran…
No comments:
Post a Comment